Siapa sangka sebuah desa yang dahulu dikenal memiliki kawasan perbukitan cukup gersang kini bisa menjadi salah satu contoh pengembangan desa wisata yang dikenal hingga dunia internasional?
Cerita itu bisa ditemukan di Nglanggeran, sebuah desa di Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejarah Desa Nglanggeran menarik bukan hanya karena keberadaan Gunung Api Purba dengan bebatuan raksasanya.
Kisah terpenting justru datang dari masyarakat lokal, terutama para pemuda yang sejak akhir 1990-an mulai melakukan penghijauan dan perlahan mengubah potensi alam desa menjadi sumber kesejahteraan bersama.
Perjalanan tersebut tidak berlangsung dalam semalam. Nglanggeran melewati proses konservasi, pembentukan organisasi pengelola, pengembangan homestay, produk kakao, wisata edukasi, hingga memperoleh berbagai penghargaan nasional dan internasional.
Puncak pengakuannya datang ketika Nglanggeran terpilih sebagai salah satu Best Tourism Villages by UNWTO pada 2021. Namun, untuk memahami mengapa desa ini begitu istimewa, kita perlu kembali jauh ke awal ceritanya.
Mengenal Desa Nglanggeran dan Gunung Api Purbanya
Desa Nglanggeran berada di wilayah Patuk, Gunungkidul, sekitar 25 kilometer dari Kota Yogyakarta. Kawasan ini terkenal dengan bentang alam Gunung Api Purba Nglanggeran yang sekarang menjadi salah satu daya tarik wisata utama di Gunungkidul.
Gunung tersebut terbentuk melalui proses geologi yang berlangsung jutaan tahun.
Kawasannya dipenuhi formasi batuan vulkanik berukuran besar, tebing, jalur pendakian, serta pemandangan perbukitan yang membuat Nglanggeran berbeda dari kebanyakan desa wisata di Yogyakarta.
Gunung Api Purba Nglanggeran juga menjadi salah satu geosite dalam kawasan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark.
Gunung Sewu tercatat sebagai UNESCO Global Geopark sejak 2015, sehingga memberi nilai penting bukan hanya dari sisi wisata, tetapi juga pendidikan dan konservasi geologi.
Keunikan bentang alam inilah yang kemudian menjadi salah satu modal utama masyarakat untuk membangun konsep ekowisata berbasis komunitas.
Asal-Usul Nama Nglanggeran dan Cerita Rakyatnya
Selain memiliki sejarah geologi, Nglanggeran juga menyimpan cerita rakyat mengenai asal-usul namanya.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat dan dicatat Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, nama Nglanggeran dikaitkan dengan kata Jawa nglanggar, yang berarti melanggar.
Konon, pada masa lalu masyarakat mengadakan pesta syukuran hasil panen dengan mengundang seorang dalang.
Dalam cerita tersebut, beberapa warga melakukan tindakan yang dianggap tidak pantas terhadap wayang milik sang dalang.
Perbuatan tersebut dianggap sebagai sebuah pelanggaran sehingga kemudian muncul kisah yang menghubungkan kawasan tersebut dengan istilah nglanggar dan akhirnya Nglanggeran.
Tentu, kisah ini lebih tepat dipahami sebagai cerita rakyat atau legenda lokal, bukan sebagai catatan sejarah administratif yang dapat dibuktikan secara kronologis.
Namun, legenda semacam ini tetap penting. Cerita tersebut menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat sekaligus memperkaya pengalaman wisata. Pengunjung tidak hanya melihat gunung dan bebatuan, tetapi juga mengenal cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tahun 1999: Awal Perubahan Desa Nglanggeran
Perjalanan Nglanggeran sebagai desa wisata modern dapat ditelusuri hingga 1999.
Saat itu, pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Nglanggeran mulai menunjukkan kepedulian terhadap kondisi kawasan gunung yang relatif gersang.
Mereka bersama masyarakat melakukan kegiatan penghijauan dengan menanam pohon di antara formasi batuan Gunung Nglanggeran.
Langkah awalnya sebenarnya sederhana: memperbaiki lingkungan.
Namun, kegiatan konservasi tersebut kemudian menjadi fondasi penting bagi perkembangan pariwisata.
Pemerintah Desa Nglanggeran kemudian memberikan kepercayaan kepada Karang Taruna Bukit Putra Mandiri untuk mengelola kawasan sekitar 48 hektare. Kepercayaan tersebut dituangkan dalam SK Kepala Desa Nglanggeran No. 05/KPTS/1999 tertanggal 12 Mei 1999.
Masyarakat dan pemuda melakukan penghijauan secara bertahap. Kawasan yang sebelumnya terlihat gersang perlahan menjadi lebih hijau, nyaman, dan menarik untuk dikunjungi.
Ini menjadi pelajaran penting dari sejarah Desa Nglanggeran: pariwisata di sini tidak bermula dari pembangunan besar, melainkan dari konservasi lingkungan.
Tahun 2007: Nglanggeran Mulai Serius Menjadi Desa Wisata
Perkembangan berikutnya terjadi pada 2007.
Setelah sempat mengalami kevakuman, aktivitas pengelolaan wisata kembali digerakkan oleh pemuda dengan pendampingan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul.
Promosi mulai dilakukan, termasuk melalui kegiatan pengenalan destinasi dan pemanfaatan teknologi informasi.
Pada periode inilah pengembangan Nglanggeran mulai berubah dari sekadar pengelolaan tempat wisata menjadi pengembangan desa wisata berbasis masyarakat.
Dibentuklah Badan Pengelola Desa Wisata atau BPDW yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Bukan hanya pemuda, tetapi juga pemerintah desa, kelompok tani, PKK, dan kelompok masyarakat lainnya.
Pengelolaan teknis kawasan Gunung Api Purba tetap banyak melibatkan pemuda desa.
Model tersebut membuat masyarakat tidak hanya menjadi penonton ketika wisatawan datang. Mereka dapat menjadi pengelola, pemandu, pemilik homestay, petani yang menawarkan wisata edukasi, pelaku kuliner, hingga produsen oleh-oleh.
Konsep inilah yang kemudian dikenal sebagai Community Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat.
Dari Gunung Api Purba ke Desa Wisata yang Lebih Lengkap
Keberhasilan Nglanggeran juga terjadi karena masyarakat tidak berhenti menjual pemandangan Gunung Api Purba.
Potensi desa mulai dikembangkan menjadi berbagai pengalaman wisata.
Wisatawan dapat melakukan trekking di Gunung Api Purba, menikmati Embung Nglanggeran, mengikuti kegiatan budaya, tinggal bersama masyarakat melalui homestay, mempelajari peternakan, hingga mengikuti kegiatan edukasi pertanian.
Salah satu pengembangan yang menarik adalah komoditas kakao.
Kakao yang dibudidayakan masyarakat tidak hanya dijual sebagai hasil pertanian mentah. Komoditas tersebut dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui pengolahan cokelat.
Griya Cokelat Nglanggeran yang diresmikan pada 2 Desember 2016 kemudian menjadi tempat produksi sekaligus wisata edukasi. Pengunjung bisa mengenal proses pengolahan kakao dari bahan baku hingga menjadi berbagai produk cokelat.
Transformasi ini menunjukkan bahwa desa wisata tidak harus menggantikan pekerjaan lama masyarakat. Pariwisata justru dapat dikombinasikan dengan pertanian, peternakan, kuliner, budaya, dan aktivitas ekonomi yang sebelumnya sudah ada.
Pengakuan Nasional hingga Internasional
Perjalanan panjang tersebut perlahan menghasilkan berbagai penghargaan.
Pada periode awal pengembangan, Karang Taruna Bukit Putra Mandiri mendapatkan penghargaan di bidang lingkungan, termasuk penghijauan dan penyelamatan lingkungan. Hal ini memperlihatkan bahwa identitas Nglanggeran sejak awal memang erat dengan konservasi.
Nama Nglanggeran semakin dikenal ketika mendapatkan ASEAN Community Based Tourism Award pada 2017.
Pada tahun yang sama, Desa Wisata Nglanggeran juga menjadi pemenang Indonesia Sustainable Tourism Award atau ISTA 2017 kategori manfaat ekonomi dengan predikat Green Gold.
Penghargaan tersebut diberikan kepada destinasi yang menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan.
Setahun kemudian, Nglanggeran memperoleh ASEAN Sustainable Tourism Award 2018.
Prestasi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan Nglanggeran bukan sekadar panorama alamnya. Tata kelola masyarakat, konservasi, pemberdayaan ekonomi, dan keterlibatan warga menjadi bagian penting dari keberhasilannya.
Nglanggeran Menjadi Best Tourism Village Dunia
Salah satu tonggak terbesar dalam sejarah Desa Nglanggeran terjadi pada 2021.
United Nations World Tourism Organization atau UNWTO memasukkan Nglanggeran dalam daftar Best Tourism Villages 2021. Nglanggeran menjadi salah satu desa yang terpilih bersama desa-desa dari berbagai negara.
Program Best Tourism Villages memberikan pengakuan kepada desa yang mampu menjadikan pariwisata sebagai pendorong pembangunan pedesaan sambil mempertahankan nilai budaya, kekayaan alam, kehidupan masyarakat, dan prinsip keberlanjutan.
Bagi Nglanggeran, pengakuan tersebut terasa istimewa karena perjalanan menuju panggung dunia bermula dari kegiatan penghijauan sederhana pada 1999.
Dari pemuda yang menanam pohon di bukit gersang, Nglanggeran kemudian berkembang menjadi contoh desa wisata berbasis masyarakat yang dikenal secara internasional.
Inilah alasan sebutan desa wisata mendunia terasa cukup tepat untuk Nglanggeran.
Rahasia Keberhasilan Desa Wisata Nglanggeran
Apa yang membuat Nglanggeran mampu berkembang begitu jauh?
Salah satu jawabannya adalah masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama.
Konsep pengembangannya tidak sekadar mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan. Pengelolaan dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus menjaga kelestarian alam, budaya, flora, fauna, dan keunikan geologi kawasan.
Regenerasi pemuda juga memiliki peran penting. Generasi muda tidak hanya ikut menjaga destinasi, tetapi belajar mengenai teknologi, promosi digital, manajemen wisata, pelayanan pengunjung, dan pengembangan produk.
Nglanggeran juga tidak menggantungkan diri pada satu objek wisata.
Gunung Api Purba menjadi ikon utama, tetapi kemudian muncul Embung Nglanggeran, wisata kakao, homestay, kuliner lokal, peternakan, paket edukasi, aktivitas budaya, dan berbagai pengalaman berbasis kehidupan masyarakat.
Dengan begitu, uang yang dibelanjakan wisatawan memiliki peluang lebih besar untuk berputar di dalam desa.
Nglanggeran sebagai Contoh Pembangunan Desa Berkelanjutan
Sejarah Nglanggeran memberikan pelajaran bahwa desa tidak harus memiliki objek wisata buatan bernilai miliaran rupiah agar dikenal luas.
Yang lebih penting adalah menemukan potensi lokal lalu mengelolanya secara konsisten.
Nglanggeran memiliki bentang alam unik, tetapi masyarakatlah yang mengubah potensi tersebut menjadi pengalaman wisata.
Mereka melakukan penghijauan, membangun organisasi, meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, mengembangkan produk lokal, serta menjalin kerja sama dengan pemerintah dan berbagai pihak.
Pariwisata akhirnya menjadi jalan untuk menjaga alam sekaligus menciptakan peluang ekonomi.
Model seperti ini juga membuat pengalaman wisata terasa lebih autentik. Pengunjung bukan hanya datang, berfoto, kemudian pulang.
Mereka bisa berinteraksi dengan warga, mencicipi produk lokal, belajar tentang kakao, menginap di homestay, mengenal budaya desa, dan memahami sejarah geologi Gunung Api Purba.
Nglanggeran menunjukkan bahwa ketika alam, budaya, masyarakat, dan ekonomi lokal berjalan bersama, desa wisata dapat tumbuh tanpa kehilangan identitasnya.
Sejarah Desa Nglanggeran adalah cerita tentang perubahan yang dibangun sedikit demi sedikit.
Perjalanan tersebut dimulai dari gerakan konservasi pemuda pada 1999, dilanjutkan dengan pengembangan desa wisata secara lebih intensif sejak 2007, kemudian berkembang melalui wisata alam, homestay, budaya, pertanian kakao, serta pemberdayaan masyarakat.
Berbagai penghargaan nasional dan ASEAN akhirnya membawa nama Nglanggeran ke tingkat internasional, hingga memperoleh predikat Best Tourism Villages by UNWTO pada 2021.
Namun, prestasi terbesar Nglanggeran mungkin bukan deretan penghargaannya. Keberhasilan sebenarnya adalah kemampuan masyarakat menjadikan kekayaan alam sebagai sumber kesejahteraan tanpa meninggalkan prinsip konservasi.
Jika berkunjung ke Gunungkidul, jangan hanya menikmati pemandangan Gunung Api Purba. Luangkan waktu mengenal desa, masyarakat, produk lokal, dan cerita panjang di balik keberhasilan Nglanggeran.
FAQ
1. Di mana Desa Nglanggeran berada?
Desa Nglanggeran berada di Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 25 kilometer dari Kota Yogyakarta.
2. Kapan Desa Wisata Nglanggeran mulai dikembangkan?
Cikal bakal pengembangannya dimulai pada 1999 melalui kegiatan konservasi dan penghijauan oleh pemuda serta masyarakat. Pengembangan desa wisata kemudian berlangsung lebih intensif sejak 2007.
3. Apa daya tarik utama Desa Nglanggeran?
Ikon utamanya adalah Gunung Api Purba Nglanggeran. Selain itu terdapat Embung Nglanggeran, wisata edukasi kakao, Griya Cokelat, homestay, kegiatan budaya, peternakan, serta berbagai aktivitas wisata berbasis masyarakat.
4. Mengapa Desa Nglanggeran dikenal dunia?
Salah satu alasannya adalah Nglanggeran mendapatkan berbagai penghargaan pariwisata berkelanjutan dan terpilih dalam Best Tourism Villages by UNWTO 2021.
5. Apa hubungan Nglanggeran dengan UNESCO?
Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan salah satu geosite dalam kawasan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark. Gunung Sewu tercatat dalam jaringan UNESCO Global Geoparks sejak 2015.
