Ekowisata Nglanggeran dan Cara Masyarakat Mengelolanya

Keindahan alam sering menjadi modal utama sebuah destinasi wisata. Namun, tanpa pengelolaan yang baik, ramainya pengunjung justru bisa membawa masalah baru, mulai dari sampah, kerusakan lingkungan, sampai manfaat ekonomi yang hanya dinikmati segelintir orang.

Nglanggeran mencoba mengambil jalan yang berbeda. Ekowisata Nglanggeran berkembang dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dari pengelolaan.

Gunung Api Purba memang menjadi magnet wisata, tetapi warga tidak sekadar menyerahkan kawasan tersebut kepada investor atau menjadi penonton ketika wisatawan berdatangan.

Pemuda, kelompok tani, PKK, pelaku UMKM, pemerintah desa, hingga kelompok sadar wisata ikut terlibat dalam perkembangannya.

Pendekatan ini dikenal sebagai Community Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat. Hingga sekarang, Nglanggeran secara resmi masih menempatkan CBT sebagai konsep utama pengembangan desanya.

Menariknya, semuanya bukan dimulai dari membangun wahana besar. Perjalanan justru berawal dari upaya penghijauan. Dari kegiatan konservasi tersebut, perlahan tumbuh sebuah desa wisata yang kemudian dikenal hingga tingkat internasional.

Ekowisata Nglanggeran Berawal dari Kepedulian terhadap Alam

Cerita pengelolaan wisata Nglanggeran sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum desa ini ramai dikunjungi wisatawan.

Situs resmi Desa Wisata Nglanggeran mencatat masyarakat dan pemuda Karang Taruna mulai melakukan penghijauan di kawasan sekitar 48 hektare pada akhir 1990-an.

Ketika kondisi lingkungan semakin hijau dan daya tarik kawasan mulai terlihat, kegiatan pariwisata perlahan berkembang.

Inilah hal yang membuat sejarah ekowisata Nglanggeran menarik.

Wisata bukan muncul lebih dulu kemudian konservasi menyusul. Justru penghijauan dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu fondasinya.

Pada 2007, pengelolaan kembali digerakkan secara lebih intensif dengan pendampingan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul.

Pada periode tersebut dibentuk Badan Pengelola Desa Wisata atau BPDW yang melibatkan pemuda, PKK, kelompok tani, dan pemerintah desa. Pengelolaan teknis kawasan Gunung Api Purba banyak dipercayakan kepada pemuda setempat.

Dari sana terlihat satu prinsip sederhana: potensi alam dianggap sebagai aset bersama yang perlu dijaga sekaligus dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Community Based Tourism Menjadi Dasar Pengelolaan

Lalu, apa sebenarnya arti Community Based Tourism di Nglanggeran?

Secara sederhana, masyarakat lokal tidak hanya bekerja sebagai tenaga pendukung setelah destinasi dibangun. Mereka ikut terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi kegiatan wisata.

Visi resmi pengelola Gunung Api Purba sendiri menyebut pengembangan kawasan sebagai wisata unggulan berwawasan lingkungan dan berbasis masyarakat.

Salah satu misinya secara spesifik adalah melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, serta perbaikan pengelolaan.

Penelitian mengenai ekowisata Nglanggeran juga menemukan bahwa aktornya cukup beragam. Pemuda, pengelola wisata, Pokdarwis, pelaku usaha kecil, dan warga lokal memiliki peran dalam mengembangkan destinasi.

Model semacam ini membuat keputusan mengenai wisata lebih dekat dengan orang yang benar-benar tinggal di desa.

Masyarakat mengetahui kondisi lingkungan, kebiasaan lokal, sumber daya yang tersedia, serta hal-hal yang sebaiknya tidak dieksploitasi. Pengetahuan tersebut menjadi modal yang sulit digantikan oleh pengelola dari luar.

Pemuda Menjadi Motor Perubahan Nglanggeran

Peran generasi muda menjadi salah satu bagian paling menonjol dalam perkembangan wisata Nglanggeran.

Penelitian yang diterbitkan jurnal Sustainability mencatat bahwa pengembangan pariwisata Nglanggeran digerakkan dari bawah dan banyak diprakarsai komunitas lokal, khususnya pemuda.

Kolaborasi mereka dengan pemerintah, kelompok masyarakat, akademisi, dan pihak lain kemudian membantu menjaga keberlanjutan program.

Pemuda tidak hanya bertugas menjaga loket atau menjadi pemandu.

Mereka ikut melakukan promosi, mengembangkan atraksi, mempelajari teknologi informasi, meningkatkan keterampilan pelayanan, dan membangun jaringan dengan berbagai lembaga.

Situs resmi Nglanggeran bahkan mencatat pemanfaatan teknologi informasi menjadi salah satu faktor penting dalam memperkenalkan Gunung Api Purba kepada masyarakat yang lebih luas sejak pengembangan intensif dimulai pada 2007.

Model ini sekaligus menciptakan ruang bagi generasi muda untuk tetap berkarya di desa.

Pariwisata memberikan alternatif kegiatan ekonomi tanpa harus sepenuhnya meninggalkan identitas masyarakat sebagai petani, peternak, atau pelaku usaha lokal.

Menjaga Alam Tidak Berhenti pada Gunung Api Purba

Ekowisata seharusnya tidak berarti sekadar “wisata yang lokasinya berada di alam”. Ada tanggung jawab untuk menjaga sumber daya yang menjadi daya tarik tersebut.

Misi pengelola Nglanggeran mencakup perlindungan lingkungan, budaya, flora, fauna, serta keunikan batuan di kawasan Gunung Api Purba. Pengelola juga menempatkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sebagai salah satu tujuan utamanya.

Penelitian Ristiawan dan Tiberghien menemukan bahwa perkembangan pariwisata berbasis masyarakat di Nglanggeran meningkatkan perhatian terhadap konservasi.

Salah satu praktik yang dicatat adalah kegiatan kebersihan rutin lingkungan serta penanaman kembali vegetasi di kawasan wisata.

Konservasi juga menjadi semakin penting karena Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan salah satu geosite dalam Gunung Sewu UNESCO Global Geopark. Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat Gunung Sewu memperoleh pengakuan sebagai geopark dunia pada 2015.

Artinya, bebatuan, bentang alam, dan lingkungan Nglanggeran bukan sekadar latar belakang untuk berfoto.

Semua itu merupakan warisan geologi yang nilai jangka panjangnya bergantung pada bagaimana manusia menjaganya.

Wisata Dibuat agar Uang Berputar di Masyarakat

Salah satu pertanyaan penting dalam pengembangan desa wisata adalah: siapa yang mendapatkan manfaat ekonomi?

Di Nglanggeran, konsep pariwisata dikembangkan agar wisatawan tidak hanya membayar tiket masuk kemudian pergi.

Muncul homestay milik masyarakat, jasa pemandu, kegiatan kuliner, kerajinan, wisata pertanian, pertunjukan budaya, serta produk lokal.

Penelitian mengenai praktik CBT Nglanggeran mencatat bahwa pengembangan wisata menciptakan peluang usaha baru pada akomodasi, makanan tradisional, pertunjukan seni, suvenir, jasa pemandu, keamanan, dan promosi.

Kakao adalah salah satu contoh paling mudah dilihat.

Hasil pertanian lokal tidak hanya dijual sebagai biji. Masyarakat mengolahnya menjadi berbagai produk melalui Griya Cokelat, sementara aktivitas pertanian dan pengolahannya juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Begitu pula dengan kegiatan seperti peternakan kambing Etawa, membatik, menanam padi, hingga kesenian lokal. Jadesta saat ini masih mencantumkan berbagai aktivitas tersebut dalam pengalaman wisata Nglanggeran.

Dengan cara ini, nilai wisata tidak terkonsentrasi pada satu objek. Pengeluaran wisatawan dapat menyentuh lebih banyak rumah tangga dan kelompok usaha.

Homestay dan Wisata Edukasi Membawa Pengunjung Lebih Dekat dengan Warga

Model ekowisata Nglanggeran juga berusaha membuat wisatawan tinggal lebih lama dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Salah satu caranya melalui homestay dan program live-in. Jadesta mencatat pengalaman menginap bersama penduduk sebagai bagian penting dari produk Desa Wisata Nglanggeran.

Paket live-in bahkan dapat menggabungkan aktivitas pertanian, kakao, peternakan, kesenian, kuliner, dan kehidupan sosial desa.

Pendekatan seperti ini mempunyai dua keuntungan.

Bagi wisatawan, pengalaman menjadi lebih mendalam. Mereka tidak hanya melihat Gunung Api Purba selama beberapa jam, tetapi memahami bagaimana masyarakat bertani, memasak, berkesenian, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Bagi warga, lama tinggal wisatawan membuka lebih banyak peluang ekonomi.

Pemilik homestay mendapat penghasilan, kelompok kuliner menyediakan makanan, petani dapat menjadi narasumber aktivitas edukasi, sementara pengrajin dan UMKM mendapatkan kesempatan memperkenalkan produknya.

Karena itu, salah satu misi resmi pengelola Nglanggeran memang diarahkan untuk meningkatkan length of stay atau lama tinggal wisatawan.

Budaya Lokal Ikut Dijaga sebagai Bagian dari Ekowisata

Ekowisata tidak hanya berbicara tentang pepohonan dan bebatuan.

Dalam konsep keberlanjutan Nglanggeran, budaya masyarakat juga menjadi bagian yang perlu dipertahankan.

Wisatawan dapat mengenal kesenian lokal, kegiatan pertanian, tata kehidupan masyarakat, hingga tradisi yang masih dilaksanakan. Paket wisata resmi bahkan memasukkan aktivitas seperti kenduri dan kesenian lokal dalam pengalaman live-in.

Penelitian tentang ekowisata Nglanggeran juga mencatat kondisi sosial-budaya masyarakat sebagai salah satu komponen yang digunakan dalam pengembangan atraksi bersama lingkungan alam dan ekonomi desa.

Namun, bagian ini membutuhkan kehati-hatian.

Ketika budaya semakin sering dipertunjukkan untuk pengunjung, ada risiko tradisi berubah hanya menjadi komoditas.

Studi kritis mengenai CBT Nglanggeran mengingatkan bahwa komersialisasi pertunjukan budaya dapat memengaruhi cara masyarakat memandang nilai dan kesakralan tradisinya.

Jadi, tantangannya bukan sekadar membuat budaya “laku dijual”.

Yang lebih penting adalah memastikan tradisi tetap memiliki fungsi dan makna bagi masyarakat yang memilikinya.

Pengelolaan Nglanggeran Tidak Sepenuhnya Tanpa Tantangan

Keberhasilan Nglanggeran sering dijadikan contoh desa wisata, tetapi bukan berarti semua persoalan sudah selesai.

Studi Ristiawan dan Tiberghien menemukan bahwa meskipun CBT menciptakan pekerjaan baru dan meningkatkan kegiatan konservasi, manfaat ekonominya tidak selalu diterima secara sama oleh setiap warga.

Kesempatan berpartisipasi dalam sektor wisata juga bisa berbeda karena kemampuan, jaringan sosial, dan keterampilan masing-masing orang tidak sama.

Ini merupakan pelajaran penting.

Pariwisata berbasis masyarakat tidak otomatis membuat semua warga memperoleh keuntungan yang sama. Pengelola tetap membutuhkan evaluasi, pelatihan, komunikasi, dan mekanisme agar lebih banyak kelompok masyarakat dapat terlibat.

Ada pula warga yang mungkin lebih memilih mempertahankan pekerjaan tradisionalnya dan tidak ingin terlibat langsung dalam wisata. Studi tersebut mencatat adanya perbedaan pandangan semacam ini dalam perkembangan Nglanggeran.

Karena itu, CBT bukan berarti memaksa semua orang menjadi pekerja pariwisata.

Model yang lebih sehat justru membuat pertanian, peternakan, budaya, dan pekerjaan lama tetap dapat berjalan, sementara wisata menjadi sumber nilai tambah.

Pengakuan Dunia Datang setelah Proses Panjang

Perjalanan panjang tersebut akhirnya membawa nama Nglanggeran jauh melampaui Gunungkidul.

Pada 2021, Nglanggeran terpilih dalam daftar Best Tourism Villages by UNWTO.

Program tersebut memberikan pengakuan kepada desa yang menjadikan pariwisata sebagai pendorong pembangunan pedesaan sekaligus menunjukkan komitmen pada pelestarian nilai alam, budaya, kehidupan masyarakat, serta keberlanjutan.

Penghargaan itu penting, tetapi bukan berarti tujuan akhir Nglanggeran hanya mengumpulkan trofi.

Justru pelajaran terbesarnya ada pada proses sebelum penghargaan tersebut datang.

Dimulai dari penghijauan, dilanjutkan dengan pengorganisasian pemuda, penguatan kelembagaan, pelatihan masyarakat, pengembangan UMKM, wisata edukasi, homestay, budaya, dan kerja sama dengan banyak pihak.

Nglanggeran menunjukkan bahwa desa wisata berkelanjutan tidak dibangun melalui satu proyek besar. Ia tumbuh dari banyak langkah kecil yang dijalankan terus-menerus.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Ekowisata Nglanggeran?

Model Nglanggeran memberikan pelajaran yang cukup sederhana tetapi penting: masyarakat sebaiknya tidak dipisahkan dari destinasi yang mereka tinggali.

Ketika warga memiliki ruang dalam pengambilan keputusan, manfaat pariwisata mempunyai peluang lebih besar untuk tetap berada di desa.

Ketika petani, pemilik homestay, pemuda, perempuan, pelaku kuliner, dan kelompok seni mendapatkan ruang, destinasi juga menjadi lebih beragam.

Namun, keberlanjutan membutuhkan evaluasi terus-menerus.

Pembagian manfaat harus diperhatikan, kapasitas warga perlu ditingkatkan, budaya tidak boleh kehilangan maknanya, dan pertumbuhan jumlah wisatawan harus selalu diseimbangkan dengan kemampuan lingkungan.

Studi tentang Nglanggeran menunjukkan bahwa keberhasilan CBT justru harus dilihat bersama dengan tantangan-tantangan tersebut.

Wisatawan juga mempunyai peran.

Jadesta mendorong pengunjung Nglanggeran untuk ikut menerapkan prinsip wisata berkelanjutan, berinteraksi dengan masyarakat secara positif, dan mendukung UMKM dengan membeli produk lokal.

Jadi, menjaga Nglanggeran bukan pekerjaan pengelola saja.

Ekowisata Nglanggeran berkembang karena masyarakat tidak hanya melihat Gunung Api Purba sebagai objek yang bisa dijual, tetapi sebagai aset alam yang perlu dikelola bersama.

Perjalanan dari penghijauan kawasan, keterlibatan pemuda, pembentukan lembaga pengelola, hingga berkembangnya homestay, UMKM, kakao, pertanian, dan wisata budaya memperlihatkan kuatnya konsep pariwisata berbasis masyarakat.

Model tersebut memang belum bebas dari tantangan, terutama soal pemerataan partisipasi, pembagian manfaat, dan menjaga budaya agar tidak sekadar menjadi komoditas. Namun, justru proses evaluasi itulah yang menjadi bagian dari pariwisata berkelanjutan.

Jika berkunjung ke Nglanggeran, jadilah lebih dari sekadar wisatawan. Gunakan jasa lokal, hormati lingkungan dan budaya, pilih homestay atau aktivitas masyarakat, serta belilah produk UMKM. Dengan begitu, perjalanan kita ikut mendukung sistem ekowisata yang sedang dijaga warga.

FAQ

1. Apa yang dimaksud Ekowisata Nglanggeran?

Ekowisata Nglanggeran merupakan pengembangan wisata yang menggabungkan konservasi alam, pemberdayaan masyarakat, budaya lokal, dan manfaat ekonomi. Pengelola secara resmi menggunakan konsep wisata berwawasan lingkungan berbasis masyarakat.

2. Siapa yang mengelola Desa Wisata Nglanggeran?

Pengelolaannya melibatkan masyarakat lokal melalui berbagai unsur seperti pemuda, kelompok sadar wisata, pelaku UMKM, kelompok tani, serta pemerintah desa. Pemuda memiliki peran besar sejak masa awal pengembangannya.

3. Kapan ekowisata Nglanggeran mulai dikembangkan?

Cikal bakalnya dapat ditelusuri hingga 1999 melalui kegiatan penghijauan dan pengelolaan kawasan oleh masyarakat serta pemuda. Pengembangan wisata kemudian kembali berlangsung lebih intensif sejak 2007.

4. Bagaimana masyarakat mendapatkan manfaat dari wisata?

Peluangnya antara lain melalui homestay, jasa pemandu, kuliner, produk kakao, pertanian, kerajinan, kesenian, dan berbagai aktivitas edukasi. Penelitian juga mencatat munculnya beragam pekerjaan dan usaha baru setelah CBT berkembang.

5. Mengapa Nglanggeran dikenal sebagai desa wisata berkelanjutan?

Selain menerapkan Community Based Tourism dan konservasi lingkungan, Nglanggeran mendapatkan pengakuan internasional sebagai salah satu Best Tourism Villages by UNWTO 2021.